Corona Mewabah, Bagaimana Kondisi Psikologis Kamu?
March 12, 2021
Oleh:
Karienda Faisa Asri
Seperti
yang sobat dunia kampus ketahui, saat ini dunia sedang terkena wabah Corona
Virus Disease 2019 atau bisa juga disebut Covid-19, virus yang
menyerang sistem pernapasan ini pertama kali datang dari kota Wuhan, China.
Virus ini tidak hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan seperti flu namun
juga infeksi pernapasan berat bahkan kematian. Virus Covid-19 ini menyerang
siapa saja tidak memandang usia, seperti bayi, anak – anak, orang dewasa, dan
bahkan orang lanjut usia. Virus ini menyebar secara cepat hampir ke seluruh
penjuru dunia dalam waktu yang singkat, termasuk Indonesia. Pemerintah dari
berbagai belahan bumi telah melakukan berbagai upaya seperti
memberlakukan lockdown, social distancing, dan isolasi mandiri
untuk mencegah penyebaran virus. Virus Covid-19 pertama kali masuk ke Indonesia
saat awal Maret tepatnya tanggal 2 Maret 2020. Di tengah ketakutan serta
kecemasan masyarakat, tak sedikit aktivitas manusia seakan mati karena
mewabahnya virus ini, kegiatan manusia menjadi terbatas. Di Indonesia,
pemerintah memberi kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan
menganjurkan untuk melakukan physical distancing, yaitu memberi
jarak dengan orang lain minimal satu meter guna untuk melindungi diri dari
penyebaran Covid-19 yang ditularkan. Mewabahnya virus tersebut tidak hanya
mengancam dan menyerang kesehatan fisik saja, namun juga kesehatan mental
diserang.
Bagaimana
sebuah virus dapat menyerang kesehatan mental? Tentu saja bukan virus itu
sendiri yang menyerang, namun ketakutan dan kecemasan yang meningkat karena
berita yang terus menerus beredar di televisi maupun media sosial, merasa
terasing selama karantina, kesepian karena jauh dari sanak saudara, serta
ketakutan pada wabah yang menyebar dapat meningkatkan kecemasan yang mengganggu
kesehatan mental. Saat pertama kali Covid-19 memasuki Indonesia, masyarakat
cenderung dilanda kecemasan dan kepanikan yang menyebabkan mereka
mengalami impulsive buying dan panic buying, masyarakat
yang dilanda panik berlebihan membeli produk dalam jumlah yang besar untuk
persiapan di masa depan agar tidak kekurangan, tidak sedikit rak – rak kosong
di pasar swalayan dan antrian yang panjang padahal pemerintah sudah meyakinkan
masyarakat jika persediaan produk akan cukup untuk semua masyarakat. Barang – barang
yang habis dibeli oleh masyarakat yaitu masker, hand sanitizer, dan
sembako.
Apalagi
dengan adanya kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), social
distancing, dan diberlakukannya PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Masyarakat
berusaha untuk tidak bepergian keluar rumah jika tidak penting dan tidak tau
mesti sampai kapan, situasi seperti ini membuat masyarakat tertekan karena
terlalu lama di rumah serta merasa kesepian atau terisolasi. Tak sedikit dari
mereka yang juga tertekan karena kehilangan pekerjaan, kehilangan pekerjaan
memang menekan emosi apalagi mengalaminya disaat keadaan seperti ini orang –
orang lebih rentan tertekan secara emosional di kondisi saat ini. Masih banyak
orang yang tidak bisa mengontrol ketakutannya terhadap Covid-19, mereka yang
tidak bisa mengontrolnya justru lebih mudah diserang paranoia atau paranoid.
Tidak
hanya orang dewasa saja, namun anak – anak dan remaja juga diserang kesehatan
mentalnya. Diberlakukannya PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) di bidang pendidikan
bagi pelajar maupun pengajar, anak – anak yang biasanya belajar di sekolah dan
mahasiswa yang biasanya belajar di kampus pun juga harus belajar di rumah guna
meminimalisir penyebaran virus saat ini. Mungkin bagi orang tua,
diberlakukannya PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) akan membuat anaknya aman dari
virus, namun kesehatan mentalnya belum tentu aman, orang tua juga perlu
memerhatikan kesehatan mental anaknya. Baik pengajar maupun pelajar merasa
tertekan karena biasanya kegiatan belajar mengajar dilakukan secara tatap muka,
kini harus beradaptasi karena perubahan metode belajar menjadi e-learning.
Perubahan ini meningkatkan stres karena mereka melakukan aktivitas seperti
biasanya yang kemudian kebiasaan itupun berganti dan memaksa mereka untuk dapat
beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Meskipun
begitu, bukan berarti kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran tidak dapat
disembuhkan. Kesehatan fisik memang penting namun kesehatan mental juga sama
pentingnya, untuk menjaga kesehatan mental kita ada hal – hal yang perlu kita perhatikan
seperti:
Pertama,
bijak dalam menyaring informasi. Walaupun banyak informasi dan berita yang
beredar tentang Covid-19, alangkah baiknya jika kita dapat menyaring informasi
tersebut dahulu. Karena dengan adanya berita yang masih simpang siur bukan
membuat tenang tetapi malah membuat semakin takut dan cemas. Pastikan informasi
dan berita yang beredar dari sumber – sumber yang terpercaya, dengan begitu
kita bisa memantau perkembangan berita dan dapat mengontrol ketakutan kita.
Kedua,
olahraga. Tentu saja ini hal yang sangat dianjurkan meskipun kita tetap di
rumah namun kita tetap harus berolahraga, bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan
fisik, namun juga kesehatan mental. Salah satu olahraga yang bermanfaat untuk
kesehatan mental adalah yoga. Gerakan yoga yang santai membuat pikiran menjadi
tenang dan rileks. Yoga juga dapat membantu kita untuk mengontrol emosi dengan
baik. Tidak usah melakukannya dengan lama, cukup satu jam sebanyak dua atau
tiga kali seminggu, jika dapat membuat pikiran tenang maka ketakutan dan
kecemasan serta stres pun akan berkurang seiring waktu.
Ketiga,
istirahat yang cukup. Salah satu cara tubuh mengistirahatkan diri dari
aktivitas adalah tidur. Istirahat yang cukup dapat membuat tubuh dan pikiran
menjadi segar kembali. Waktu tidur yang cukup sekitar 6 sampai 8 jam sehari,
selain memberi ketenangan bagi tubuh, tidur juga akan memberikan ketenangan
untuk pikiran kita.
Keempat,
pola makan yang sehat. Seringkali kita tidak memerhatikan makanan yang kita
makan dan waktu saat makan, makanan yang mengandung protein, vitamin,
karbohidrat, dan serat bisa kita dapatkan melalui buah – buahan, sayuran,
daging, dan susu. Memang benar makanan yang sehat akan menjaga kesehatan fisik
namun juga dapat menjaga kesehatan mental. Oleh karena itu, perlu diperhatikan
pola makan yang sehat dan jangan sampai lupa waktu makan.
Kelima,
komunikasi. Untuk mengurangi kecemasan yang ada, jika ada waktu luang sebaiknya
digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga, saudara, ataupun teman. Meskipun
di tengah pandemi seperti ini kita tetap dapat bertukar kabar melalui pesan
teks, panggilan telepon, ataupun panggilan video. Dengan begitu kita bisa
meredakan kecemasan yang dirasakan.
Keenam,
membuat rutinitas. Selama pandemi mungkin bosan karena di dalam rumah saja,
waktu yang tersedia juga bisa kita isi dengan melakukan kegiatan yang kita
sukai seperti menonton film, membaca novel, belajar memasak, ataupun kegiatan
lainnya. Melakukan aktivitas yang disukai meningkatkan suasana hati kita
menjadi lebih baik dan mengalihkan pikiran kita dari kecemasan yang dirasakan.
Beberapa
hal diatas dapat dilakukan guna menjaga kesehatan mental kita di tengah pandemi
saat ini. Berbagai permasalahan kondisi psikologis memang bisa saja muncul di
semua individu dan di semua golongan usia. Rasa takut, cemas, dan khawatir
merupakan hal yang wajar kita rasakan selama pandemi seperti ini. Namun,
cobalah untuk menjaga kesehatan mental kita tidak hanya saat pandemi tetapi
juga untuk seterusnya. Walaupun dilaksanakannya PSBB (Pembatasan Sosial
Berskala Besar), PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), WFH (Work from Home)
karena pandemi namun kita tetap harus menjaga kesehatan fisik serta mental kita
dan tidak lupa untuk bahagia dengan berbagai cara. Jika kita tidak bisa
mengatasi permasalahan psikologis sendiri dan membutuhkan pertolongan, alangkah
baiknya jika kita tidak ragu untuk berkonsultasi dengan psikiater atau
psikolog. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat dunia kampus.
Artikel telah diposting di Dunia Kampus 4.0 - Corona Mewabah, Bagaimana Kondisi Psikologis Kamu?


3 komentar
artikel nya sangat bagus, terimakasih karien
ReplyDeletesama - sama pipit, semoga bermanfaat
DeleteArtikel yang sangat informatif, terima kasih
ReplyDelete