Review: A Tale of Two Sisters (2003)
March 13, 2021Hai
Vriend!
Review Time~ Sebelumnya saya sudah mereview film
berjudul Sunny (2011), sekarang saya kembali lagi untuk mereview salah satu
film lawas yang sudah saya tonton berjudul A
Tale of Two Sisters yang dirilis tahun 2003 disutradarai oleh Kim Ji-woon,
wah saya baru nonton dua tahun yang lalu. Walaupun saya tidak suka film
bergenre horror namun film bergenre psychological horror ini menarik perhatian
saya. Saat melihat poster A Tale of Two Sisters, saya berpikir film ini
bercerita tentang orangtua yang menyiksa anak – anaknya hingga meninggal lalu
arwah mereka menghantui orangtuanya, oops- ternyata dugaan saya meleset.
A
Tale of Two Sisters dimulai dengan adegan di sebuah ruangan yang sepertinya di rumah
sakit jiwa, memperlihatkan seorang dokter yang sedang berusaha mengajak bicara
pasiennya. Akan tetapi pasien itu tak bicara sepatah katapun dan hanya
tertunduk, ia baru mengangkat wajahnya ketika dokter tersebut bertanya apa yang
terjadi pada keluarganya. Pasien tersebut bernama Bae Soo-mi (Im Soo-jung),
seorang anak yang sedang menjalani terapi karena terpuruk setelah ibunya
meninggal.
Adegan
pun beralih ketika sebuah mobil berhenti di sebuah rumah yang sepertinya jauh
dari kehidupan, tipikal rumah di film horror lainnya. Rumah besar yang cukup tua
ditepi dermaga sebuah danau serta dikelilingi hutan. Dari mobil tersebut turun
dua gadis kakak beradik yaitu Bae Soo-mi dan Bae Su-yeon (Moon Geun-young)
beserta seorang pria paruh baya yang merupakan ayahnya, Moo-hyeon (Kim Kap-su). Soo-mi dan Su-yeon sedang menikmati pemandangan alam di
dermaga dekat rumahnya. Kakak beradik yang sedang bermain di dermaga dipanggil
oleh ayahnya untuk pulang, saat masuk ke dalam rumah tersebut mereka disambut
seorang wanita yang ternyata ibu tiri mereka bernama Eun-joo (Yeom Jeong-ah).
Tampaknya Soo-mi dan Su-yeon tidak menyukai ibu tiri mereka.
Di rumah inilah satu persatu kejadian aneh mulai terjadi. Mulai dari Su-yeon yang mendapatkan siksaan dari Eun-joo, Eun-joo yang diganggu oleh makhluk tak kasat mata, Soo-mi yang berusaha melindungi adiknya dari siksaan ibu tiri, dan ayahnya yang seakan tak mendengar dan tak peduli atas aduan Soo-mi tentang perilaku ibu tirinya. Seluruh kejanggalan yang seperti puzzle mulai terkuak satu demi satu. Dan ternyata… Su-yeon telah meninggal bersama ibu kandungnya, semua kejadian yang terjadi hanyalah halusinasi dan permainan peran Soo-mi. Ayahnya mengira Soo-mi telah sembuh, karena itu ia membawa Soo-mi pulang kembali ke rumah. Menurut saya, Soo-mi menderita gangguan mental yang membuat dirinya berhalusinasi sehingga tidak bisa membedakan antara realita dan halusinasi.
Mungkin
bagi pecinta film horror yang sudah menonton, A Tale of Two Sisters biasa saja
namun bagi saya yang penakut film ini luar biasa bukan hanya karena “horror”
tetapi juga karena kisahnya. Yup, A Tale of Two Sisters terinspirasi dari
cerita rakyat Korea yang terkenal pada masa Dinasti Joseon yang telah dibuat
menjadi beberapa film, yaitu dua saudari Janghwa dan Hongryeon (Rose Flower,
Red Lotus). Dikisahkan sepasang suami istri memiliki dua orang anak perempuan yang
sangat cantik bernama Janghwa (Bunga Mawar) dan Hongryeon (Teratai Merah).
Sayangnya, sang ibu meninggal saat Hongryeon berusia 5 tahun, tak lama kemudian
sang ayah menikah lagi untuk melanjutkan garis keturunannya. Ibu tiri mereka
sangat kejam, dia membenci putri tirinya tetapi ia menyembunyikan perasaan itu.
Ia mulai mengungkapkan rasa bencinya dan menyiksa mereka ketika ia memiliki
tiga anak laki – laki berturut – turut. Akan tetapi Janghwa dan Hongryeon tidak
pernah mengadukan perbuatan ibu tiri kepada ayah mereka.
Ketika
Janghwa sudah beranjak dewasa dan bertunangan, ayahnya menyuruh istrinya
membantu Janghwa, mendengar hal itu ibu tiri murka karena ia tak rela
mengeluarkan uang sepeserpun. Mulai darisitu timbul rencana kotornya, ia menyuruh
anak tertuanya menaruh tikus mati yang dikuliti diatas tempat tidur Janghwa. Esoknya,
ibu tiri memfitnah Janghwa memiliki anak diluar nikah dan sang ayah percaya
begitu saja. Janghwa yang tak tau harus berbuat apa berlari keluar rumah menuju
danau di hutan terdekat. Ibu tiri menyuruh anak tertua untuk mengikuti Janghwa
dan mendorongnya ke danau. Saat Janghwa tenggelam karena perbuatan anak tertua,
tiba – tiba anak tertua diserang seekor harimau besar yang membuat satu tangan dan satu
kakinya lepas dari tubuhnya. Ibu tiri yang mengetahui hal itu melampiaskan
amarahnya pada Hongryeon, Hongryeon yang tak kuat menerima perlakuan ibu tiri
dan juga kehilangan saudarinya akhirnya menenggelamkan diri di danau yang sama
tempat Janghwa tenggelam. Konon katanya dua saudari ini lahir kembali menjadi
anak kembar ketika ayahnya menikah lagi untuk yang ketiga kalinya dan diberi
nama Janghwa dan Hongryeon, dan keluarga baru tersebut hidup bahagia selamanya.
Jika
berbicara tentang genre horror, bisa dibilang saya sangat penakut. Tetapi
karena rasa penasaran yang terus datang saat melihat poster film ini membuat
saya memberanikan diri untuk menonton film ini, tentunya ditemani teman – teman
saya. Film berdurasi sekitar 115 menit ini tidak terlalu banyak jumpscare yang
membuat saya ketakutan karena lebih fokus pada konflik antar pemain. Lee Mo-gae
selaku sinematografer A Tale of Two Sisters memberi komposisi yang seimbang
untuk menghasilkan visual yang nyaman untuk dilihat. Dan juga alunan musik berjudul
Lullaby karya Lee Byung-woo, gitaris dan komposer film, melodi yang dihasilkan
menambah efek melankolis film ini.
Rating : ★★★★☆



1 komentar
Terima kasih untuk informasinya
ReplyDelete